Asap
Rokok Kandung Karsinogen Penyebab Kanker Ganas
Asap rokok
mengandung bahan karsinogen atau bahan yang mampu mengubah sel epitel bronkus
normal pada paru-paru menjadi sel kanker ganas, baik pada perokok aktif maupun
perokok pasif yang hanya menghirup asap rokok.
Spesialis paru
dan pernafasan, dr Emil Bachtiar Moerad, Sp.P di Samarinda, mengatakan,
karsinogen yang terhirup tersebut akan mengubah sel normal menjadi sel kanker
ganas secara bertahap dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun.
"Proses
terbentuknya kanker yang memakan waktu cukup lama ini lah yang menyebabkan
orang-orang menganggap enteng dan terus mengkonsumsi rokok," katanya.
Padahal,
lanjutnya, rokok selain menimbulkan penyakit kanker paru yang merupakan
penyebab kematian bagi kaum laki-laki di Indonesia, juga dapat menyebabkan
penyakit paru obstruksi kronis atau kecacatan pada paru, ditandai dengan batuk
berdahak dan sesak nafas terus menerus.
Ia
menjelaskan, karsinogen yang sebagian besar terdapat pada asap rokok tersebut
terbentuk dari pembakaran bahan-bahan penyusun rokok yaitu kertas rokok,
tembakau dan bahan penyedap rokok.
Ia mengatakan,
karsinogen paling banyak terbentuk pada rokok yang tidak mengalami pembakaran
sempurna, yaitu rokok yang tidak dihisap atau dibiarkan menyala begitu saja.
Selain itu, ada sekitar 400 jenis racun yang terdapat pada rokok, di antaranya
tar, nikotin, benzen dan karbon monoksida (CO).
"Asap
rokok yang terbakar tidak sempurna dan terhirup oleh orang yang bukan perokok
lebih berbahaya dibandingkan dengan asap rokok yang diisap langsung oleh
perokok aktif, karena saat rokok diisap asapnya masih tersaring filter pada
rokok," katanya.
Disebutkan
bahwa perokok pasif mempunyai resiko terserang kanker paru lebih besar atau 28
kali dibandingkan dengan orang normal yang bukan perokok.
Berhenti merokok
Lebih lanjut,
dr Emil yang juga Ketua IDI Kaltim mengakui, sangat sulit mengubah kebiasaan
perokok untuk berhenti merokok, dan menurutnya, berpuasa di bulan suci
Ramadhan, dapat dijadikan momentum untuk mengurangi atau bahkan menghentikan
kebiasaan merokok secara bertahap.
"Keinginan
seorang perokok untuk berhenti merokok tergantung pada seberapa kuat niat yang
ditanamkan dalam dirinya dan kesadaran yang kuat akan bahaya rokok bagi dirinya
sendiri maupun bagi orang di sekitarnya," katanya.
Dikemukakan
bahwa di Amerika Serikat selama tahun 2000, penyakit kanker paru akibat merokok
menjadi penyebab kematian terbesar bagi kaum wanita, mengalahkan penyakit lain
yaitu kanker rahim dan kanker payudara.
Sedangkan di
Indonesia, katanya, penyebab kematian tertinggi bagi kaum wanita masih
disebabkan oleh kanker rahim dan kanker payudara. Sedangkan bagi kaum laki-laki
di Indonesia,
kanker paru menduduki urutan ketiga sebagai penyebab kematian.
Merokok,
Tindakan Bunuh Diri Perlahan!
Kesakitan dan
kematian yang diakibatkan oleh rokok adalah bagian dari bentuk kelalaian atau
kesalahan yang disengaja. Hal itu identik dengan bunuh diri sendiri. Padahal,
dalam sudut pandang agama apapun tindakan memutus usia sendiri, diyakini tidak akan
diridoi oleh Tuhan.
Menurut data
di Indonesia
terdapat 6,5 juta orang dewasa menderita penyakit akibat merokok. Berbagai
macam penyakit tersebut antara lain kanker, terutama penyakit paru, jantung dan
peredaran darah, bayi lahir dengan berat badan rendah dan sindrom bayi
meninggal mendadak (sudden death) dari ibu yang merokok.
Demikian
penegasan Menteri Kesehatan Dr. Achmad Sujudi, ketika membuka Lokakarya
Strategi Nasional Penanggulangan Masalah Rokok dalam rangkaian peringatan Hari
Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) di Depkes belum lama ini.
Menkes
menegaskan, kendati demikian ternyata kenyataan ini tidak juga mampu memberi
pengaruh yang signifikan untuk mencegah orang tidak merokok."Memang
kesakitan bukan saja diakibatkan karena rokok, namun bukti menunjukkan bahwa
merokok menyebabkan banyaknya gangguan kesakitan dan kematian," ujar
Sujudi.
Masalah lain
dari rokok adalah korban yang ditimbulkan tidak hanya menimpa pada orang yang
merokok atau yang dikenal dengan istilah perokok aktif. Namun, juga akan menimpa
orang lain yang tidak merokok yang disebut dengan perokok pasif.
"Masalah
ini jika ditinjau dari sisi moral, etika dan agama manapun berarti akibat dari
asap rokok yang dihembuskan akan menimbulkan kerugian pada orang lain yang
tidak merokok. Bahkan,juga akan merusak tatanan lingkungan alam kehidupan
secara keseluruhan," kata Menkes.
10 Alasan untuk Berhenti Merokok, Selain Kanker Paru
Hari tanpa
tembakau sedunia baru saja lewat, 31 Mei silam. Apakah anda yang perokok
menghentikan ‘hobi’ anda pada hari itu? Atau, anda justru melaluinya sama
seperti hari-hari sebelumnya, tiada hari tanda sigaret kesayangan anda?
Tampaknya, masih lebih banyak yang memilih jawaban kedua,.
Seperti
kebanyakan pecandu rokok lain, anda mungkin juga termasuk yang tidak peduli
akan bahaya merokok, meski sudah mengetahuinya melalui peringatan
pemerintah yang tercantum dalam bungkus rokok, atau poster dan spanduk kampanye
antirokok yang kian gencar dilakukan. Mungkin sesekali anda memikirkannya juga
sebelum menyalakan rokok, hmmm... sakit jantung, kanker paru, emfisema...namun
tetap saja anda menghisapnya dalam-dalam. Ke-401 zat beracun dan 43 bahan
penyebab kanker itu. Dan anda semakin jauh terperosok dalam ‘jurang kematian’
itu.
Bila ancaman kematian tak juga dapat menghentikan
anda, mungkin sejumlah alasan lain dapat memicu anda untuk berhenti merokok:
kebanggaan-kebanggaan klasik. Selain memendekkan usia, saat anda merokok, anda
juga akan merusak salah satu hal terpenting yang sering kita gunakan untuk
menilai orang: penampilan kita. Di bawah ini ada daftar 10 hal yang mungkin
dapat menjadi alasan anda untuk berhenti merokok. Alasan-alasan ini memang
tidak dapat membunuh anda, tapi yang jelas akan merusak penampilan.
No. 1:
Impotensi
"Ya,
Tuhan! Tak Mungkin! Benarkah? Wah, ini baru bahaya!" Mungkin itu respon
anda sesaat setelah membaca alasan nomor satu ini. Bila anda tak menghentikan
kebiasaan anda merokok dua bungkus sehari, dalam waktu dekat sesuatu yang
sangat anda pedulikan mungkin akan terlepas dari genggaman dan ini bukan kabar
baik untuk anda maupun pasangan anda. Bayangkan saja, bila merokok dapat
mengganggu kehidupan seks anda, rasanya itu suatu pertukaran yang tak adil. Apa
enaknya tak bisa menjalankan fungsi anda di tempat tidur?
Fakta: Merokok
akan mengurangi aliran darah yang diperlukan untuk mencapai suatu keadaan
ereksi. Tak kurang satu dari dua pria Amerika di atas 40 tahun mengalami
impotensi dalam derajat tertentu. Merokok juga dipercaya sebagai salah satu
gangguan fisik utama penyebab disfungsi ereksi.
No. 2: Wajah
keriput
Lupakan saja
wajah-wajah ganteng dan macho yang anda lihat pada iklan rokok yang terpampang
besar-besar di reklame jalan, suratkabar, majalah dan televisi. Hal yang paling
tak mungkin diberikan oleh rokok kepada tubuh anda adalah mata dan bibir
seperti si model iklan tadi. Pipi berkerut dan garis-garis vertikal di sekitar
mulut anda. Itulah gambaran yang sebenarnya.
Fakta: Merokok
dapat mengurangi aliran oksigen dan zat gizi yang diperlukan sel kulit anda
dengan jalan menyampitkan pembuluh darah di sekitar wajah. Anda harus
bersiap-siap untuk keriput lebih awal, dan ini biasanya tak dapat diperbaiki
(bahkan jika anda punya uang banyak dan sanggup menghadapi sakitnya ooperasi
plastik). Hal ini mungkin akan lebih mengkhawatirkan bagi kaum wanita dibanding
pria, tapi tak apa, teruskan saja membaca.
No. 3: Gigi
berbercak, napas bau.
Anda - apalagi
yang masih muda - tentunya setuju bahwa salah satu fungsi penting bibir adalah
untuk berciuman. Namun bagaimana halnya bila mulut anda dipenuhi gigi yang
berbercak dan napas bau? "Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat
akan merokok, orang menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal semacam ini dan
bereaksi negatif terhadapnya," ujar juru bicara Asosiasi Paru Amerika,
Edwin Fisher, PhD.
Fakta:
Partikel dari rokok sigaret dapat memberi bercak kuning hingga coklat pada gigi
anda, dan hal ini juga akan memerangkap bakteri penghasil bau di mulut anda.
Kelainan gusi dan gigi tanggal juga lebih sering terjadi pada perokok. Dan hal
ini, sama sekali tidak menarik. Mungkin konsekuensi lain yang juga berhubungan
dengan penyakit mulut dapat menjadi pertimbangan anda. Gangguan pita suara,
kanker rongga mulut, kerongkongan dan esofagus adalah beberapa kosekuensi yang
harus anda tanggung bila anda merokok.
No. 4: Anda -
dan hal-hal di sekitar anda- bau.
Mungkin anda
tidak merasakannya. Mungkin anda sudah saangat terbiasa dengan merokok sehingga
anda tidak bisa lagi membedakannya. Mungkin pula sel penghidu di hidung anda
sudah sedemikian rusaknya sehingga tak bisa berfungsi dengan baik. Tapi, coba
sesekali menanyakan kepada pasangan atau rekan yang tidak merokok untuk
mengatakan yang sejujurnya tentang bagaimana anda, mobil dan rumah anda berbau.
Jawaban pahit yang akan anda terima adalah: Semuanya bau!
Fakta: Rokok
sigaret memiliki bau yang tidak menyenangkan dan menempel pada segala sesuatu,
dari kulit dan rambut anda sampai pakaian dan barang-barang di sekitar anda.
Dan bau ini sama sekali bukan hal yang membangkitkan selera pasangan maupun
teman-teman anda.
No. 5: Tulang
Rapuh.
Seiring dengan
meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap osteoporosis saat ini, mungkin anda
sudah familiar dengan sejumlah faktor resikonya. Sebutlah, wanita pasca
menopause, berkulit putih atau ras Asia,
jarang melakukan aktivitas fisik, defisiensi kalsium dan bakat genetik. Anda
benar, hal-hal tersebut merupakan kontributor rendahnya kepadatan mineral
tulang. Tapi yang anda mungkin tidak tahu, ternyata merokok juga bisa menjadi
salah satunya.
Fakta:
Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara merokok dengann osteoporosis pada
pria dan wanita. Sebuah penelitian di tahun 1997 mengamati 4000 kasus patah
tulang pinggul pada wanita lansia, dan menyimpulkan bahwa satu dari 8 kasus
patah tulang itu disebabkan oleh kehilangan massa tulang yang disebabkan oleh
merokok. Dan sekali hilang, kepadatan massa
tulang tidak akan kembali sepenuhnya. Hal ini mungkin disebabkan karena merokok
mempengaruhi produksi estrogen dan hormon lain yang diperlukan untuk
pembentukan tulang yang sehat.
No. 6: Depresi
Mari kita
berfilsafat sejenak: Mengapa anda merokok? Fisher, dari Asosiasi Paru Amerika,
percaya bahwa sebagian besar perokok melakukannya karena stress atau depresi.
"Pengangguran atau mereka yang sedang dalam proses perceraian biasanya menjadi
perokok berat," ujarnya seraya menambahkan bahwa bahkan bila anda tidak
sedang stress, merokok akan membuat anda tampak seperti sedang stress. Merokok
akan lebih membuat anda tampak bermasalah daripada terlihat keren.
Fakta:
Hubungan antara merokok dengan depresi telah diketahui sejak lama. Sebagian
ilmuwan menganggap adanya suatu zat yang terkandung dalam rokok yang mampu
menyebabkan peningkatan mood. Zat inilah yang biasanya kandungannya berkurang
saat seseorang menderita depresi. Itulah juga penyebabnya mengapa orang yang
sedang stress atau depresi cenderung mencari 'pelarian' ke rokok. Padahal,
rokok tidak bisa menggantikan tempat psikolog aatau psikiater untuk
berkonsultasi.
No. 7: Panutan
yang buruk bagi anak.
Seorang anak
akan cenderung meniru apa saja yang dilakukan orangtuanya. Setiap kali anda
menyulut rokok, itu sama saja seperti mengatakan kepada anak anda bahwa merokok
itu diperbolehkan. Ambil contoh pendapat Ryan, yang hingga kini tidak pernah
merokok. "Orangtuaku adalah panutan yang baik untukku," kenangnya.
"Mereka tidak merokok dan minum minuman keras, jadi aku juga tidak pernah
mencoba kedua hal itu."
Fakta: Setiap
hari, diperkirakan 3000 anak di AS yang menjadi ketagihan merokok sigaret. Bila
mereka terus merokok, 1000 diantaranya bisa dipastikan akan meninggal akibat
penyakti yang berhubungan dengan merokok. Organisasi anti-tembakau mengklaim
perusahaan rokok yang secara terbuka menargetkan anak-anak sebagai target
kampanye mereka. Bila anda merokok, anda ibarat reklame berjalan bagi
perusahaan rokok. Dan bukannya dibayar, justru anda yang 'menghidupi' mereka.
No. 8:
Kebakaran!
Fakta:
Kebakaran yang disebabkan oleh rokok yang menyala merupakan penyebab utama
kebakaran di AS. Selama tahun 1980-an, bahan-bahan rokok menyulut lebih dari
200.000 kebakaran setiap tahunnya dan membunuh lebih dari 1000 korban jiwa, dan
mencederai lebih dari 3000 orang serta menyebabkan kerugian material sebanyak
lebih dari 300 juta dolar.
Jika kematian
akibat kebakaran tidak membuat anda prihatin, anda tentu masih ingat terakhir
kali rokok anda 'melubangi' baju kesayangan atau sofa anda. Memang sih, kita
sudah memasuki milenium ketiga dan mode pakaian semakin beragam, tapi tampaknya
pakaian berlubang tidak sedang 'in' sekarang.
No. 9:
Sirkulasi darah yang buruk
Berliur,
lumpuh, bicara pelo...Sama sekali tak ada bagusnya menjadi penderita stroke.
Bila anda selama ini menghibur diri bahwa stroke merupakan konsekuensi yang
agak jarang dari kebiasaan anda, anda tetap tidak bisa mengelak dari ancaman
serangan jantung yang bisa terjadi setiap saat. Jika anda beruntung, mungkin
anda hanya akan merasakan sedikit ketidak nyamanan akibat sirkulasi yang buruk,
seperti rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk atau kaki dan tangan yang terasa
dingin.
Fakta: Sel
darah merah telah dirancang dari sananya untuk mengangkut oksigen ke seluruh
tubuh. Pada perokok, molekul oksigen digantikan oleh komponen dari asap rokok,
sehingga menghambat transportasi oksigen yang penting bagi kehidupan sel.
No. 10: Anda
terlihat bodoh
Mengingat telah
begitu banyaknya penyuluhan anti-rokok yang telah dilakukan, dapat dikatakan
bahwa para perokok itu pastilah menderita kekurangan oksigen. Faktanya, seperti
yang anda baca pada poin di atas, mereka memang kekurangan oksigen. Tak peduli
bagaimana seorang perokok membela ketergantungannya, ada satu kebenaran yang
tak mampu mereka pungkiri: Seperti kata slogan, rokok itu pembunuh. Jadi, bila
masih ada yang meneruskan kebiasaan itu, tentunya akan terlihat konyol bukan? Sumber: Klinikpria.com.
Awas ! Merokok Bisa Bikin Buta
Menurut
catatan Dirjen Pelayanan Kefarmasian Depkes, sekitar 70 persen penduduk
Indonesia atau 141 juta orang telah menjadi perokok aktif, sehingga mereka
perlu disadarkan agar secara bertahap tidak merokok lagi. Demikian disampaikan
Aolid Dahari saat memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati
tanggal 30 Mei. Sekitar 60 persen dari perokok aktif berasal dari penduduk
miskin. Sebagian pendapatan yang mereka miliki digunakan untukmembeli rokok.
Padahal, informasi tentang bahaya rokok seringkali dikumandangkan.
Kampanye anti
rokok memang telah dilakukan sejak lama namun jumlah perokok selalu saja
bertambah. Angka ini harus segera diturunkan agar mereka terhindar dari
berbagai penyakit yang diakibatkan rokok. Akibat merokok dapat menimbulkan
penyakit jantung, hipertensi, kanker paru dan tenggorokan, serta gangguan janin
bagi wanita hamil yang merokok.
Inilah hasil
temuan terakhir penelitian soal bahaya merokok bagi kesehatan. Dari Auckland,
Selandia Baru, sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan, menyimpulkan,
selain dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan lainnya, kebiasaan merokok
ternyata juga dapat membuat manusia menjadi buta.
Hasil studi
yang dilakukan dokter ahli kesehatan masyarakat, Nick Wilson di Wellington,
mendapati ada 1.300 pecandu nikotin yang mengalami kebutaan, sebagian besar
kebutaan sepenuhnya dan permanen.
Lalu di mana
letak hubungannya ? Nah menurut Wilson,
hubungan antara kebutaan dengan kebiasaan merokok itu, berkaitan dengan kondisi
yang disebut age-related macular degeneration (AMD) atau penurunan kualitas
anatomi tubuh. Celakanya, sebagian besar kasus AMD tidak dapat diobati.
"Merokok
akan mempercepat keseluruhan proses penuaan. Zat-zat kimia perusak yang
terdapat pada tembakau kemungkinan memberi dampak (yang demikian),"
demikian Wilson.
Penelitian ini
juga menegaskan bahwa logam-logam berat beracun yang terdapat dalam rokok
diperkirakan sebagai penyebab katarak.
Berhenti
Merokok? Bisa!
Health:
Wednesday, 4 Dec 2002 8:21:36 WIB
Mengapa para
pecandu rokok lebih 'takut' berhenti merokok daripada takut pada puluhan
penyakit mematikan yang mengancamnya?
Semua perokok
sudah tahu, termasuk saya, bahwa merokok itu dapat memperpendek umur karena
memicu serangan jantung, stroke, bronkhitis kronis, emfisema, impotensi, dan
berbagai kanker, khususnya kanker paru. Tapi semua perokok, termasuk juga saya
pada awalnya, tidak peduli.
Saya, seperti
juga pecandu rokok yang lain, merasa segala "ancaman" itu tidak
menakutkan saya. Sudah puluhan tahun saya merokok, dan tak ada satu pun gejala
penyakit yang disebutkan tadi mendatangi saya. Paling banter hanya batuk!
Saya baru
tersentil ketika membaca sebuah laporan WHO di internet suatu hari. Penyakit
yang berkaitan dengan tembakau, tulis laporan itu, menewaskan kira-kira 4 juta
orang setiap tahun, atau satu orang setiap delapan detik. Nah, siapa bisa
menduga kalau 8 detik berikutnya sayalah yang terkena serangan jantung dan
meninggal?
Saya
melanjutkan membaca laporan tersebut. Di seluas dunia, sekurang-kurangnya 1,1
miliar orang adalah perokok. Secara kasar, itu berarti sepertiga orang dewasa
di dunia. Saya baru tahu dari laporan WHO itu, bahwa kemungkinan seorang
perokok direnggut kehidupannya oleh nikotin adalah 1 banding 2. Itu artinya,
dari dua orang perokok, dalam jangka panjang, salah satunya akan tewas karena
rokok. Saya berpikir sederhana saja: bagaimana kalau satu orang yang apes itu
adalah saya?
Mencelakakan
orang lain
Masih dari
laporan WHO itu, merokok juga mencelakakan orang lain. Istri seorang perokok
berisiko terkena kanker paru-paru sebesar 30 persen daripada istri bukan
seorang perokok. Anak-anak yang orangtuanya merokok lebih besar kemungkinannya
terkena pneumonia atau bronkhitis sebelum mereka melewati usia dua tahun
daripada anak-anak yang rumahnya bebas asap rokok. Oh, saya punya seorang bayi
yang lucu dan istri yang cantik di rumah....
Wanita hamil
yang merokok membahayakan bayi dalam kandungan mereka. Ini termasuk istri hamil
yang setiap hari menghisap asap rokok dari suaminya. Nikotin, karbonmonoksida,
dan bahan kimia lain yang berbahaya dalam asap rokok memasuki aliran darah ibu
dan menyalurkan langsung pada anak di rahimnya. Konsekuensinya antara lain,
kemungkinan besar keguguran, melahirkan bayi yang sudah mati, dan bayi mati
setelah lahir. Selain itu, sindroma kematian bayi mendadak kemungkinan terjadi
tiga kali lipat bagi bayi-bayi yang ibunya merokok selama kehamilan.
Ternyata lebih
mengerikan memikirkan akibat rokok terhadap orang lain daripada terhadap diri
sendiri. Saya juga terpikirkan, bukankah lebih bijaksana kalau uang untuk
membeli rokok saya manfaatkan untuk keperluan keluarga yang lain?
Saya mencoba
menghitung. Setiap hari rata-rata 2 bungkus rokok seharga Rp6000 per bungkus
saya habiskan. Itu berarti dalam setahun saya membuang duit 365 kali 12.000 =
Rp4.380.000. Kalau 10 tahun saya merokok itu sama dengan saya
"membakar" uang milik saya sebanyak Rp43.800.000! Itu pun kalau dalam
10 tahun itu harga rokok tidak naik.
Siapa
bilang sulit berhenti
Saya langsung
memutuskan berhenti merokok saat itu juga. Siapa bilang berhenti merokok sulit?
Niat saya didukung oleh Dr Faisal Baraas DSpJ, ahli penyakit jantung RS Jantung
Harapan Kita, Jakarta.
Dokter Faisal menyatakan bahwa saya harus siap menghadapi akibat berhenti
merokok itu. "Tapi itu tidak berat kalau Anda memang sudah berniat
berhenti merokok," katanya.
Dua puluh
menit setelah Anda berhenti merokok, urai dokter Faisal, tekanan darah Anda
turun hingga normal. Seminggu kemudian, tubuh Anda bebas dari nikotin. Sebulan
kemudian, berkuranglah semua gejala batuk, hidung tersumbat, rasa lelah, dan
nafas terengah-engah. Setelah lima
tahun, risiko Anda meninggal karena kanker paru pun merosot hingga 50 persen.
Setelah 15 tahun, risiko Anda terkena penyakit jantung koroner merosot hingga
setara dengan risiko orang yang sama sekali belum pernah merokok. "Jangan
lupa untuk berolahraga. Jalan kaki atau joging adalah pilihan terbaik," ia
mengingatkan.
Untunglah saya
bukan pecandu rokok berat. Karena menurut psikiater dari Rumah Sakit Ketergantungan
Obat (RSKO), Jakarta,
Dr Diah Setia Utami SpKJ, pecandu rokok akan lebih sulit menghentikan
kecanduannya. Ini karena kalau ia berhenti, akan muncul gejala putus zat
(withdrawal syndrome) setelah 2-24 jam. "Gejalanya yaitu muncul gangguan
tidur, gampang marah, tidak sabar, hilang konsentrasi, dan gelisah, dan 'rindu
berat' pada rokok," katanya.
Orang akan
menjadi pecandu, jelas Dr Diah, kalau pada dirinya sudah terjadi dua hal.
Pertama, toleransi. Artinya, orang cenderung meningkatkan dosis zat yang
digunakan untuk mencapai efek langsung. "Jadi, kalau orang tambah cemas,
rokoknya pun bertambah banyak," Dr Diah memberi contoh. Dan kedua, terjadi
gejala putus zat (withdrawal) saat ia tidak menggunakan zat itu.
Nikotin
Si Biang Kerok
Penelitian
mengungkapkan bahwa dari 4 orang yang mencoba menjadi perokok, salah satunya
menjadi pecandu. Dan 'biang kerok' orang menjadi pecandu itu adalah zat bernama
nikotin.
Nikotin adalah
satu dari 4000 komponen yang terkandung dalam asap rokok yang merupakan major psychoactive
substance (zat yang bersifat psikoaktif). Zat ini bekerja pada susunan saraf
pusat, otak, dan mampu menstimulasi berbagai macam zat biokimiawi otak
(neurotransmitters) yang berpengaruh terhadap pola pikir, mood, atau perasaan
kita. Nikotin inilah yang membuat kita selalu ingin merokok setelah sekali
mencobanya.
Dan kalau kita
terus menerus merokok, maka sebanyak 43 komponen lain dalam asap rokok akan
membuka jalan bagi puluhan penyakit masuk ke dalam tubuh kita. Zat-zat itu
antara lain sianida, benzena, metanol, dan asetilena (bahan bakar obor). Asap
rokok juga mengandung nitrit oksida dan karbon monoksida. Keduanya adalah gas
beracun.
Mengapa
jadi pecandu?
Menurut Dr
Diah, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi pecandu rokok.
Ada tekanan
dari kelompok bermainnya. Dalam kelompok remaja, agar diterima dalam kelompok
itu, salah satu caranya adalah dengan rokok.
Model. Ia
menirukan idolanya yang di matanya terlihat jantan dengan merokok.
Personaliti.
Pada awalnya ia memang dasarnya orang pencemas, tidak percaya diri dan
sebagainya. Ternyata dengan merokok semua perasaan tidak nyaman itu berkurang
(efek euphoria).
Faktor lain
yang tak kalah pentingnya adalah pembombardiran iklan rokok di sekitar kita.
Rokok telah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Di jalan, kita selalu
melihat iklan rokok, di teve, film, media massa,
dan lain-lain, membuat kita tak bisa lepas dari rokok.
Karena itu,
menurut Dr Diah, ada dua cara untuk menghentikan para pecandu rokok, yang
semuanya dibutuhkan keberanian. Pertama, keberanian dari diri pribadi
masing-masing. Motivasi yang kuat dan kesiapan mental harus dimiliki. Kedua,
keberanian dari pemerintah untuk mengorbankan pemasukan dari rokok yang sangat
besar demi kesehatan masyarakat.
Semuanya
sangat sulit, tentu saja. Tapi yang jelas, menurut saya, iklan-iklan rokok yang
sering saya lihat itu penuh kebohongan. Simbol kejantanan, kegagahan, dan
kemewahan, yang ditampilkan iklan-iklan tersebut sama sekali berbeda dengan
kenyataan. Merokok ternyata membuat napas tak sedap, gigi dan jari menjadi
coklat kekuningan, menyebabkan batuk, dan napas terengah-engah. Dan tentu saja
berbagai macam penyakit serius dan mematikan yang telah disebutkan tadi. Sama
sekali tak ada kesan jantan, gagah, atau mewah di sana.
Bukankah lebih
enak berhenti merokok dan membayangkan kualitas hidup yang lebih baik dengan
terhindar dari penyakit jantung, kanker paru-paru, impoten, stroke, dan
lain-lain? (WH) Sumber: Majalah
HealthyLife.
No comments:
Post a Comment